Sambutan Ketua PSHT Cabang Tebo Pada Acara Halal Bihalal 1440 H dan Harlah PSHT Cabang Tebo Ke-19 tahun 2019


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarahkatuh.

Salam Persaudaraan,

Innal hamda lillaah, nahmaduhuu wanastaiinuhuu wanastaghfiruh, wanauudzu billaahi min suruuri
anfusinaa, wamin sayyiaati a'maalinaa, mayyahdillaahu falaa mudlillalah, waman yudlilhu falaa
haadiyalah.

Asyhadu an laa Ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah, waasyhadu anna Muhammadan abduhuu
warasuuluh, alladzii laa nabiyya ba'dah.

Allaahumma sholli wasalllim 'alaa sayyidinaa Muhammadin, wa 'alaa aalihii waash haabiihii ajmaiin.
Ammaa ba'du.

Hadirin saudaraku kadang kinasih yang saya hormati dan saya cintai,

Bicara Idul fitri, kita ingat kembali akan Ilmu Setia Hati (SH). Ilmu mengenal diri sendiri sedalam-dalamnya, sehingga memiliki keyakinan di hati (percaya pada diri sendiri), yang merupakan cerminan insan beriman. Siapa diri kita ini sesungguhnya?, kesadaran inilah yang harus kita patri di hati kita, bahwasanya kita adalah makhluk, titah sak wantah, yang mempunyai kewajiban mutlak kepada sang pencipta (sang khalik), untuk mengabdi kepada-Nya. Sebagaimana wujud nyata insan bertaqwa, akni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

(wama kholaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun)
Artinya; tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS. Adz-dzariat 56).

Kata fitrah mengandung arti kesucian dan kekuatan. Manusia terlahir ke muka bumi dengan fitrah kemanusiaan yang suci yaitu tidak membawa dosa warisan dari siapa pun, baik kedua orang tua yang melahirkannya, maupun Adam dan Hawa sebagai moyang umat manusia.

Fitrah kemanusiaan juga mewarisi kekuatan, karena ruh yang dihembuskan ke dalam jasad berasal dari Dzat Yang Maha Sempurna dengan segala nama-nama kebaikan (al-asma’ al-husna). Inilah yang membawa manusia memiliki potensi-potensi insani yang paralel dengan sifat-sifat ketuhanan itu.

Dengan demikian Fitrah kemanusiaan berdimensi ganda, yakni kesucian dan kekuatan. Jika keduanya dikembangkan secara simultan maka akan melahirkan insan fitri, yaitu manusia dengan kepribadian suci dan kuat. Inilah kepribadian orang-orang yang bertaqwa (muttakin) yang sama-sama ingin kita capai. Seperti halnya tujuan PSHT, yakni “mendidik manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT). Berbudi luhur itulah muara atau tujuan akhir kita ngudi ilmu SH. Sedangkan muaranya atau tujuan akhir kita beragama adalah akhlak mulia (akhlakul karimah).

Jika kita mampu memiliki kesucian dan kekuatan diri (iman dan taqwa), maka kita akan memperoleh kemenangan. Iman itu adanya di hati, maka merupakan kekuatan dari dalam (kekuatan batin), sedangkan taqwa merupakan kekuatan lahir, terpantul dari seseorang menjalankan ibadahnya, yakni menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Memiliki kesucian dan kekuatan diri inilah sebenarnya yang kita rayakan setiap hari raya Idul fitri, yaitu kemenangan kaum beriman mengendalikan hawa nafsu selama sebulan penuh sehingga terlahir kembali sebagai insan paripurna penuh kesucian dan kekuatan diri. (tinata lahir batine).

Hadirin saudaraku kadang kinasih yang saya hormati dan saya cintai,

Mengendalikan hawa nafsu, itulah sebenarnya kuncinya. Mengendalikan hawa nafsu disebut sebagai
jihad besar, karena pengendalian hawa nafsu adalah perbuatan yang sangat berat dan susah dilakukan manusia. Hawa nafsu cenderung mendorong manusia kepada keburukan Sebagai akibatnya, manusia yang cenderung mengikuti hawa nafsu akan terjebak ke dalam kekejian, kemungkaran, dan kezaliman. Inilah yang dewasa ini menjelma dalam kehidupan sebagian masyarakat kita dalam berbagai bentuk kekerasan, pembunuhan, perzinahan, pencurian, dan bentuk kejahatan lainnya. Semuanya itu menunjukkan terjadinya degradasi moral atau kerusakan moral. Kerusakan moral ini bisa kita lihat dalam bentuk nyata kondisi masyarakat kita saat ini, diantaranya;

1.   Jika kita dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah, namun sekarang sebagian anak bangsa cenderung pemarah, mudah tersinggung, dan kemudian menempuh jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Banyak yang terjebak ke dalam fanatisme buta dari pada mengembangkan toleransi.
2.   Kita juga dikenal sebagai bangsa pejuang, tidak kenal lelah dan pantang menyerah terhadap segala macam tantangan. Namun sekarang daya juang itu mulai berkurang, tergerus oleh zaman. Kebanyakan cenderung menjadi pecundang. Mereka tidak tahan terhadap ujian dan cobaan, sehingga mengambil jalan pintas menerabas hukum dan undang-undang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. bahkan terjatuh pada kecenderungan membanggakan bangsa-bangsa lain yang dianggapnya maju dan moderen. Sehingga kehilangan jati diri dan tidak bangga terhadap bangsanya sendiri.
3.   Kita juga punya tradisi bergotong royong. dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan kegiatan. Diselesaikan bersama dalam prinsip “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Namun sekarang semua itu mulai mengendur tergerus waktu. keikhlasan dan ketulusan yang terdapat dalam peribahasa “sepi ing pamrih rame ing gawe”, sudah tergantikan, sekarang segala sesuatu diukur dari sudut materi atau bendawi. (wani piro).

Hadirin saudaraku kadang kinasih semua yang saya hormati dan saya cintai,

Tentu gambaran potret buram tadi tidak boleh terjadi pada diri kita sebagai insan PSHT, karena;

1.   Kita telah didik dan disadarkan bahwa kita hidup dalam perbedaan, kemajemukan, (plural), dan telah mengikat janji menjadi bersaudara. Untuk menjaga persaudraan kita tetap langgeng, maka kita harus menjunjung tinggi toleransi, saling menghormati, menyanyangi, menyintai, dan saling bertanggung jawab. Persaudaraan yang kita bangun adalah ukhwah wathoniah, persaudaraan yang terlepas dari kefanatikan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan).
2.   Kita dididik memiliki semangat juang yang tinggi, tidak mudah putus asa (ceklekan hati), dalam menghadapi masalah hidupnya. Kita sadar bahwa setiap manusia hidup pasti punya masalah, sebab masalah adalah kekasih manusia yang paling setia. (sepira gedhene sengsara, yen tinampa amung dadi coba). Ini juga terpantul dalam falsafah kita; “Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan, tetapi manusia tidak dapat dikalahkan selama manusia itu Setia pada Hatinya sendiri”. Dan ini hanya dimiliki oleh manusia yang beriman.
3.   Kita juga dididik memiliki persaudaraan yang kekal abadi, persaudaraan saklawase, kita harus selalu bersama dan bersatu dalam menyelesaikan masalah. (all in one), dalam hal ini kita bisa belajar seperti halnya sapu lidi, atau semut ireng yang selalu bersama-sama dalam menyelesaikan tugasnya. Kita juga dididik untuk selalu ikhlas dalam menjalankan dharma kehidupannya, sabar dan pemaaf atau sugih pangapura. (Gung samudra pangaksami). Hadirin Kadang Kinasih yang saya hormati dan saya cintai,

Hidup di Jaman sekarang (jaman now) disebut juga jaman melenial atau juga globalisasi dan modernisasi telah membawa perubahan nilai dan tradisi dalam kehidupan kita, dampaknya bisa positif maupun negatif. Pada sisi positif, membawa kemajuan dan kemudahan bagi kita dalam berkomunikasi satu sama lain, memperoleh informasi dan pengetahuan tentang berbagai macam hal, terutama akibat perkembangan teknologi informasi. Tetapi di sisi lain, kemajuan tersebut juga membawa dampak negatif, diantaranya melahirkan tiga sifat manusia, yaitu; manusia individualistik, manusia materialistik, dan manusia hedonistik.

Ketiga kecenderungan inilah, yang menempatkan manusia sebagai pusat kesadaran dan kehidupan, sesungguhnya merupakan sikap-sikap yang anti Tuhan (atheis). Seharusnya Allah lah yang harus menjadi pusat kesadaran dan kehidupan manusia. Sebagaimana terpantul dari syahadat kita: “La ilaha illallah, Muhammadar Rasulullah”. Bahkan lebih dari Allah SWTlah yang menjadi tujuan dan muara hidup kita, sebagaimana terdapat dalam ungkapan; “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, sesungguhnya kita milik Allah, berasal dari Allah dan akan kembali ke hadiratNya.

Kadang kinasih yang saya hormati,

Saat ini kita harus pandai menyikapi dan mengunakan media sosial, sebab dunia medsos memiliki dua mata sisi yang berbeda. Bisa membangun dan bisa juga menghancurkan. Seperti halnya saat ini,
Persaudaraan kita sedang diuji, PSHT yang kita cintai ini sedang diserang virus yang berpotensi akan menghancurkan ajaran-ajaran luhurnya. Penyebab utamanya adalah karena adanya “ketidak jujuran”. Lihat saja di medsos, karena berbeda sudut pandangnya dalam menyikapai permasalahan yang terjadi kareana adanya Parluh 2016 dan Parluh 2017, dengan ganasnya mereka setiap hari tanpa henti, dengan bangganya memprovokasi, membuly, memfitnah sesepuh-sesepuh kita yang ada di Padepokan Agung Madiun, dengan tujuan mempengaruhi para warga, untuk mengikuti dan bergabung dengan kelompoknya dengan dalil “nyawiji”.

Nyawiji itu sangat baik, namun bagaimana bisa terjadi, kalau selalu menyakiti, dengan caci maki saben hari. Mereka semua sebenarnya adalah saudara kita sendiri, namun sayang mereka telah melupakan ajaran demi nafsu menguasai. Mereka lupa dari mana mereka dapat ilmu SH Terate, rata-rata mereka sok tahu segalanya, melebihi pengetahuan dari para sesepuh kita. Mereka juga lupa bahwa, bliau para sesepuh sudah menjadi warga PSHT dan mengembangkan PSHT, jauh sebelum kita mengenal PSHT, bahkan sebelum kita lahir di dunia ini. Mereka merasa yang paling benar, dan tidak pernah bisa melihat dan menerima kebenaran orang lain. Mengapa demikian?

Sebab hakekatnya pikiran, mata dan hati mereka itu sendiri yang tidak benar dan sudah dibutakan oleh kebenaran itu sendiri. Oleh karena itu saya mengingatkan dan mengajak kepada saudara-saudaraku semua; Mari kita tetap solit, jaga integritas kita, jaga paseduluran kita, saling mengingatkan, jangan mudah percaya informasi di medsos yang tidak jelas sumbernya, apalagi mendeskreditkan Pengurus PSHT Pusat Madiun yang ada di Padepokan Agung Madiun.

Jikalau ada saudara kita yang sudah tidak sejalan dengan kita, tidak mau berkumpul lagi dengan kita, dan bergabung, berkumpul dengan kelompok lain, kita hormati dan ikhlaskan, walau terasa sakit di hati ini. Karena mengingatkan kembali kebaikan yang telah kita berikan, yang sebenarnya sudah kita lupakan. Sebab pada hakekatnya setiap manusia akan merasa nyaman apabila kumpul dengan manusia yang memiliki frekuensi sama. Namun kita harus tetap tegar dan tegas menghadapi ujian ini, semoga Gusti Allah memberikan kekuatan dan hidayah-Nya kepada kita untuk selalu menjaga dan menjalankan ajaran serta tradisi Pesuadaraan Setia Hati Terate. Khususnya dalam membangun kejayaan PSHT cabang Tebo yang sama-sama kita cintai ini.

mau berkumpul lagi dengan kita, dan bergabung, berkumpul dengan kelompok lain, kita hormati dan ikhlaskan, walau terasa sakit di hati ini. Karena mengingatkan kembali kebaikan yang telah kita berikan, yang sebenarnya sudah kita lupakan. Sebab pada hakekatnya setiap manusia akan merasa nyaman apabila kumpul dengan manusia yang memiliki frekuensi sama. Namun kita harus tetap tegar dan tegas menghadapi ujian ini, semoga Gusti Allah memberikan kekuatan dan hidayah-Nya kepada kita untuk selalu menjaga dan menjalankan ajaran serta tradisi Pesuadaraan Setia Hati Terate. Khususnya dalam membangun kejayaan PSHT cabang Tebo yang sama-sama kita cintai ini.

Kadang kinasih yang saya hormati,

Yang menjadi pelajaran berharga bagi kita dari sejarah buram perjalanan PSHT saat ini adalah;

“segala sesuatu yang diawali dari ketidakjujuran (kebohongan) pasti akan menghasilkan keburukan dan kehancuran. Begitu juga sebaliknya, jika diawali dengan kejujuran pasti akan menghasilkan kebaikan dan keharmonisan”.

Dalam perjalanan hidup kita, baik dalam menjalankan hubungan vertikal (hablun minallah), dan hubungan horizontal (hablun minannas) pasti ada masalah, sehingga berakibat salah dan dosa.

Takdir manusia itu bersalah dan berdosa, maka tidak ada manusia yang tidak bersalah dan tidak berdosa. Namun kita harus yakin, Gusti Allah itu maha rahman dan rohim, dan janji-Nya itu pasti. Jika kita melakukan kesalahan terhadap sesama segeralah minta maaf, dan jika berdosa kepada Allah, segeralah minta pengampunan. Berdo’alah kepada Allah, niscaya Allah kabulkan. (ud’uuni astajiblakum). Maka jadikanlah diri kita sebagai manusia yang pandai berdo’a. Sebab hanya orang sombong yang tidak mau berdo’a. Oleh karena itu saya mengingatkan dan mengajak saudara-audaraku semua mari setiap saat kita berdo’a, semoga Allah swt senantiasa memberi kekuatan dan hidayah-ya kepada kita untuk dapat menjaga persaudaraan ini tetap langgeng, dan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Tebo dijauhkan dari segala fitnah yang akan memecah belah dan merusak persaudaraan kita.

Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Kadang kinasih yang saya hormati,

Pada kesempatan yang baik ini ijinkan saya mengucapkan;
Taqabbalallahu minna wa minkum, Minal ‘aidiin wal faiziin, mohon maaf atas segala kilaf dan salah, semoga Allah swt menerimal segala amal ibadah kita semua, dan mengampuni segala dosa-dosa kita, serta menempatkan kita masuk pada golongan Muttakin. Aamiin yaa robbal ‘alamiin……

Selanjutnya mari kita bermohon kepada Allah, semoga Allah swt senantiasa mengijinkan kita untuk selalu bersemboyan;

“selama matahari masih bersinar, selama bumi masih dihuni manusia, selama itu pula Persaudaraan Setia Hati Terate, tetap kekal, jaya abadi, selama-lamanya”.

Demikian yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas segala perhatiannya, mohon maaf atas segala kekurangannya.

Barokallohu liwalakum……

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarahkatuh.

Rimbo Bujang, 23 Juni 2019

SUTIKNO, S.Pd.I, M.Pd

Posting Komentar

0 Komentar