Memahami Eksistensi Suro Dalam Perspektif Tradisi SH Terate

Suro adalah nama bulan pertama dalam tahun Saka (kalender Jawa) yang bertepatan dengan bulan pertama dalam kelender Hijriyah yaitu Muharram yang berdasarkan perhitungan peredaran bulan. Sehingga bulan suro sangat identik dengan bulan Muharram walaupun pada kurun waktu tertentu berbeda dalam memulai tanggal dan awal bulan. 

Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokro Kusumo di Mataram (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Nama sebelum itu adalah Srawana yang jatuh setiap tanggal 8 Juli.

Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa. Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Mas Sutikno (Ketua PSHT Cabang Tebo)

Kata Suro sendiri berasal dari bahasa arab dalam terminologi Islam Assyuro yaitu hari kesepuluh bulan Muharram yang merupakan hari yang paling bersejarah dari sejarah manapun juga karena pada hari itu pertama kali Allah SWT menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari asyura pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari asyura itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari asyura itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang.

Terlepas dari kontroversi atas apa yang telah dilakukan oleh Sultan Agung pada saat itu, Suro sangat berbeda dengan bulan Srawana pada tahun Saka sebelumnya. Suro pasca perubahan tersebut menjadi unik dan lain dalam Tradisi Jawa dan Islam. Atas berbagai peristiwa sejarah sebagaimana perspektif Islam diatas, bulan Suro "Asyuro"/Muharram merupakan salah satu di antara empat bulan (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rojab) yang dinamakan bulan haram atau mulia. Karena sebagai bulan mulia maka pada bulan-bulan tersebut dilarang melakukan Pembunuhan dan Perbuatan haram (kejahatan) yang lain.

Dalam perspektif dan tradisi Jawa, bulan Suro (Srawana) ada yang mamahami sebagai bulan penuh musibah, penuh bencana dan bulan penuh kesialan. Dalam pemahaman yang lain, bulan suro dianggap sebagai bulan keramat dan sangat sakral.

Atas dasar perbedaan dan keunikan tersebut maka untuk merayakan bulan suro/muharram ditandai dengan kegiatan yang berbeda mulai dari syukuran (selamatan), ritual, ruwat, melek'an (tidak tidur semalam suntuk), tapa bisu dan lain-lain, sebagai refleksi pembersihan dan penyucian diri. Memadukan berbagai keunikan, tradisi dan bahkan keyakinan yang berbeda, dalam perspektif tradisi Setia Hati Terate bulan suro adalah bulan urgen dan juga sakral. Bagi calon warga SH Terate, bulan suro menjadi momentum penting untuk menjadi dan sebagai pribadi "manusia" yang baru karena telah layak menjadi Warga Persaudaraan Setia Hati Terate (manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta dapat Memayu Hayuning Bawana). Menjadi seorang pendekar, yakni manusia suci dalam pikiran, perkataan, dan tindakan (tinoto lahir batine) yang lahir kembali ke dunia yang ditandai dengan lembaran kain putih berupa Mori sak dedeg sak pengawe.

Bagi warga SH Terate bulan suro juga merupakan peristiwa penting, karena bertambahnya saudara baru melalui prosesi pengesahan, dan bulan pencucian kain Mori. Selain itu bulan suro juga merupakan momentum penting untuk refleksi, instropeksi dan penyucian diri/pribadi untuk kembali dan tetap menjadi pribadi/manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta dapat Memayu Hayuning Bawana.

Dengan demikian bagi warga SH Terate bulan suro merupakan bulan rialat (tirakat) atau bulan mesu budi dalam pranatan kesucian batin, berlomba mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak laku dan dharma guna membersihkan batin hingga hidup kita menjadi damai, tentram dan sejahtera. Sebab, hanya dengan kesucian batin itu, manusia bisa lebih intens mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Dan dengan kesucian batin itu pula, kita meyakini bahwa Allah SWT akan senantiasa menjaga diri kita dan memayungi kehidupan kita dengan rakhmat, hidayah, keselamatan, kesejahteraan, kedamaian dan kesentosaan. (Sapa sing suci adoh bebaya pati). Sebaik baik kehidupan manusia di muka bumi ini adalah manusia yang mengerti dan bermanfaat bagi kehidupan sesama (ngerti dharmaning sasami). Oleh karenanya bulan suro merupakan bulan untuk meningkatkan kualitas batiniyah. Kembali ke jati diri SH Terate. Yakni, sebagai manusia yang cinta paseduluran, berbudi luhur tahu benar dan salah, berwatak kesatria, sederhana dan setiap saat siap ambil peranan dalam proses memayu hayuning bawana. (Sutotikno. 4 Oktober 2015_sht.tbo)